Untuk membiayai penjaga kebun jati (tectona grandis) saya terapkan tumpangsari dengan menanam bawang merah (jenis bawang goreng), jagung manis dan lombok rawit. Bawang merah dan lombok rawit memerlukan matahari penuh sehingga tumpangsari hanya dapat diterapkan sebelum jati tumbuh tinggi. Untuk lahan yang super kritis dengan curah hujan hanya 100 mm per tahun dimana pertumbuhan jati yang sangat lambat, maka selain untuk menutup biaya pemeliharaan (upah penjaga kebun dan lain2), tumpangsari intensif (dengan penyiraman sprinkle, pemupukan dan penyiangan gulma secara teratur) sangat membantu pertumbuhan tanaman jati sehingga mendekati jati yang ditanam pada areal yang memenuhi syarat tumbuh ideal.
Selama satu bulan tumpang sari, sudah dapat dilihat bahwa pertumbuhan tanaman jati sekitar tumpang sari mempunyai percepatan tumbuh hampir dua kali tanaman jati tanpa tumpangsari. Sebelum tumpangsari, kami menyiram setiap tanaman jati dengan satu ember air (+ 5 liter) setiap hari, hasilnya NIHIL. Begitu disiram…wusssssshhhhh air langsung lenyap, karena porousnya lahan, ditambah matahari lembah Palu yang mencorong setiap hari, membuat jati tumbuh kerdil. Air tersebut hanya membuat tanaman mampu tetap hidup, tanpa tumbuh. Begitu telat disiram pucuk-pucuk daun langsung kering. Jati yang ditanam di lahan super kritis memerlukan tetesan air secara terus menerus seperti sistim infus.
Dalam rangka menjaga kesuburan tanah, jenis tanaman tumpangsari diselang-seling atau bergantian antara bawang merah goreng dengan tanaman lain bisa terong, tomat ataupun lombok. Bawang merah goreng memerlukan masa tanam kurang lebih 70 hari, maka pada hari ke 30, tanaman lombok mulai ditanam untuk menggantikannya. Tanaman lombok mempunyai masa produktif sampai umur dua tahun.

Advertisements

Comments are closed.